Senin, 29 November 2010

Antara Rezeki, Jodoh dan Ajal



Banyak mungkin diantara kita yang masih berpendapat bahwa Rezeki, Ajal, serta jodoh telah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih di dalam kandungan. Pemikiran seperti ini mungkin telah mendarah daging di dalam diri kita.
Apalagi kiranya sejak kecil mungkin orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat dimana tempat kita hidup pun kalimat ini sampai sekarang masih sangat familiar diulang-ulang.
Untuk membahas ini, maka mari kita coba untuk urai masalah ini sehingga kita bisa menyimpulkan tentang hakikat dari ketiga kata tersebut, yakni seputar Rezeki, Ajal, dan Jodoh.
1. REZEKI
Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).
Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian).
1. Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain.Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).
2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an].
Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.
Ayat-ayat tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia. Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih menunjuk pada konotasi harta.
Itu pula yang diindikasikan oleh ayat-ayat yang mengaitkan rezeki dengan konsumsi dan infak (pembelanjaan), karena konsumsi dan infak hanya terkait dengan harta.
Rezeki berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram.
Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi. Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta yang diambil penjudi dari lawannya dalam perjudian adalah rezeki.
Sebab, rezeki yang halal ataupun haram itu adalah harta yang diberikan oleh Allah ketika seseorang berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di dalamnya bisa diperoleh rezeki.
3.Rezeki bukan hanya yang secara riil dimanfaatkan (dinikmati) oleh seseorang. Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa rezeki manusia adalah apa saja yang ia kuasai baik yang ia manfaatkan maupun tidak (Lihat QS al-Baqarah [2]: 57, 60; an-Nisa’ [4]: 5; ar-Ra’d [13]: 26; al-Hajj [22]: 34).
Ayat-ayat itu jelas memutlakkan rezeki untuk menyebut semua yang dikuasai baik dimanfaatkan (secara riil) maupun tidak. Tidak bisa dikhususkan pada apa yang dimanfaatkan (secara riil) saja tanpa ada ayat yang mengkhususkannya, karena ayat-ayat tersebut bersifat umum dan penunjukannya juga umum.
Jika orang mencuri, menilap atau merampas harta orang lain, tidak dikatakan ia mengambil rezeki orang itu. Namun, ia mengambil rezkinya dari orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengambil rezeki orang lain, melainkan seseorang mengambil rezekinya dari pihak lain.

Senin, 15 November 2010

~Penjelasan mengenai THAHAROH dalam kitab ahkamus Shalat

~Penjelasan mengenai THAHARAH dalam kitab Ahkamus Shalat karya Ali Raghib, Seorang Ustadz (Profesor) di Universitas Al Azhar~
A. THAHARAH

Thaharah menurut bahasa adalah suci dan bersih dari kotoran. Adapun thaharah menurut istilah para ulama ahli hukum Islam (fuqaha) adalah menghilangkan hadats dan najis atau sesuatu yang senada dengan makna dan gambaran pengertian keduanya. Yang dimaksud dengan ungkapan “yang senada dengan makna dan gambaran pengertian keduanya” , yaitu seperti: tayamum, mandi besar yang disunnahkan, cucian yang kedua, bekumur dan sejenisnya.

Jumat, 12 November 2010

diskusi hizbiyin dan ikhwan

~TANGGAPAN TULISAN “Paradoks Pemikiran Politik Hizbut Tahrir” yang ditulis oleh Shinichi Kudo on Thursday, November 11, 2010~

oleh Adi Victory pada 12 November 2010 jam 17:54
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillah, segala puji Allah, tuhan semesta alam (al kauniy) manusia (al insan) dan kehidupan (al hayah), serta Dia yang mengatur interaksi daripada ketiganya tadi. Allah, tuhan yang telah menurunkan syari’at Islam melalui Rasulullah SAW yang ditujukan untuk mengatur manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan penciptanya. Inilah kesempurnaa Islam sebagai agama sekaligus sebagai sebuah ideology atau mabda’iy. Islam adalah agama sempurna. Kesempurnaannya sebagai sebuah sIstem hidup dan sistem hukum meliputi segala perkara yang dihadapi oleh umat manusia.

Firman Allah Swt: وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu..” (TQS. An-Nahl [16]: 89) Ini berarti, perkara apapun ada hukumnya, dan problematika apa saja, atau apapun tantangan yang dihadapi kaum Muslim, akan dapat dipecahkan dan dijawab oleh Dinul Islam.

Keharusan mengikuti syariat Islam, terutama jejak langkah yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw, telah ditegaskan oleh firman Allah Swt: قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي “Katakanlah, ‘Inilah jalan (dakwah)-ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada (agama) Allah dengan hujjah (bukti) yang nyata..” (TQS. Yusuf [12]: 108)

Selasa, 09 November 2010

Adab Menyambut Tamu

Adab Menyambut Tamu; Refleksi Kunjungan Obama Ke Jakarta

Oleh Fathuddin Ja’far

Sungguh merupakan keagungan Islam bahwa ajaran dan sistemnya mencakup semua aspek kehidupan, sejak dari sistem keimanan (akidah), ibadah, syari’ah (berbagai peraturan dan perundang-undangan), mu’amalah (ekonomi dan bisnis), akhlak , budaya, seni, hubungan internasional, sampai tata cara masuk toilet dan menyambut tamu.

Kamis, 04 November 2010

Industri dan Teknologi Militer Negara Khilafah

Industri dan Teknologi Militer Negara Khilafah

Masa awal pemerintahan Islam, jihad sebagai metode mendasar penyebaran dakwah Islam telah menjadi bagian penting dari upaya membangun kekuatan Daulah Islam. Jihad adalah perang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah. Oleh sebab itu diperlukan persiapan baik logistik, formasi perang, strategi, komandan dan para pasukan serta persenjataan. Persenjataan mengharuskan adanya industri.

Jumat, 29 Oktober 2010

Hizbut Tahrir Dan Sepuluh Burung

Hizbut Tahrir Dan Sepuluh Burung

oleh Rahmat Rana pada 29 Oktober 2010 jam 17:30
Satu burung di tangan lebih baik dari sepuluh burung di atas pohon.” Dengan kata kiasan ini telah menjadikan mudah bagi setiap pengemban misi untuk berpaling dari rel tujuan yang diinginkan menuju rel tujuan yang dipengaruhi oleh realitas dan tekanan yang sulit dihadapi dan dilaluinya.

Rabu, 27 Oktober 2010

Sumpah Pemuda: antara perjuangan dan repleksi kaum muda

Mungkin bulan oktober ini dapat dibilang bulannya pemuda di Indonesia.Awal Oktober ketika dunia Islam tertuju ke Indonesia, ketika ulama-ulama dunia, dai’,pemuda Islam berkumpul di Indonesia pada Konferensi International , Word Assembly of Moslem Youth (WAMY) yang menyimpulkan tentang peran pemuda muslim dimasa yang akan datang.
Ramainya rubrik media dengan kolom pemuda dan juga mahasiswa. Pada tanggal 20 Oktober, dimana pada peringatan satu tahun pemerintahan SBY dan Boediono, dimana pemuda-pemuda terlibat demonstrasi, dan beberapa diantaranya berakhir dengan ricuh. Dan pada tanggal 28 Oktober ini,hari dimana dianggap sebagai hari Sumpah Pemuda.

SYURA BUKAN DEMOKRASI

Pengantar
Anggapan bahwa syura (musyawarah) sama dengan demokrasi, telah masyhur dan  sudah lama adanya.  Meski demikian, anggapan ini sesungguhnya tidak benar. “Demokrasi bagi kita ialah musyawarah,” kata Sukarno, presiden pertama RI, ketika menyampaikan pidato berjudul, "Negara Nasional dan Cita-Cita Islam," di Universitas Indonesia, di Jakarta 7 Mei 1953.
Namun demikian,

Jumat, 15 Oktober 2010

Ukhti... Aku Merindukanmu... (Sebuah Muhasabah)

Ukhti.. Aku Merindukanmu.. (Sebuah Muhasabah)

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabar ukhti..? Aku yakin, ukhti akan selalu dalam kondisi prima. Karena pikiran positif ukhti yang hebat dapat menyingkirkan kesedihan dan jutaan tekanan.

Selasa, 21 September 2010

Indahnya Sistem Islam, Solusi Alternatif Mengganti dan Menuntaskan Kebobrokan Sistem Peradilan Sekuler Demokratis

oleh Anggara Kelana pada 22 September 2010 jam 9:46
Masyarakat sekarang seolah menjadi masyarakat yang terdidik, melek hukum, dan sadar politik. Respon penguasa dengan mencanangkan program “ganyang Mafia” peradilan/hukum pada tanggal 5/11/09 sebagai bagian dari agenda 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, tidak menjadikan otomatis masyarakat percaya. Karena seperti pepatah nasi telah menjadi bubur, juga sekalipun pemerintah kembali membuka PO Box 9949 berikut dengan kode GM (Ganyang Mafia) untuk menerima laporan masyarakat yang menjadi korban atau bahkan dengan pembentukan Satgas

Selasa, 14 September 2010

~Satu Perjuangan, Ukhuwah dan Salam~

~Satu Perjuangan, ukhuwah dan salam~

oleh Adi Victory pada 14 September 2010 jam 14:56
Ukhuwah bukan hanya sekedar kata-kata indah dalam sms-sms atau pembicaraan kita, namun kenyataannya kita masih jauh dari konsep ukhuwah yang indah itu.

Ukhuwah bukan sebuah “basa-basi”. Ukhuwah bermula dari kejujuran hati kita, bermula niat kita saling mencintai karena Allah

Sabtu, 11 September 2010

Jumat Berharga

.Oleh Anung Umar
Di hari Jumat ini saya mendapatkan beberapa "kejutan" yang berharga. Semua itu bermula ketika saya berangkat ke masjid di dekat rumah untuk menunaikan shalat Jumat. Ketika sampai di masjid, terlihat beberapa polisi dan mobil ambulan diparkir dekat masjid.
Saya bertanya-tanya dalam hati ada apa polisi banyak berdatangan ke sini? Dan ada apa pula ambulan di sini? Saya bertanya kepada tetangga yang kebetulan ada di situ, "Ada Gubernur ya? Kok rame gitu? " Itu yang saya kira awalnya. Karena memang kondisinya mirip ketika Gubernur DKI datang ke tempat itu. Ia menjawab, "Nggak, itu ustadz fulan (tidak perlu saya sebutkan namanya) meninggal. " Inna lillah wainna ilaihi raji'uun... Ustadz yang selama ini mengajar dan mengisi khutbah di masjid ini meninggal.
Tetangga saya yang lain mengabarkan bahwa meninggalnya itu mengagetkan banyak orang karena tidak didahului dengan penyakit atau kecelakaan, pokoknya sebelumnya sehat wal afiat. Meninggalnya diketahui di waktu sahur, tatkala anaknya membangunkannya untuk bersantap sahur. Ia sempat bangun dan sedikit menjawab, lalu tidur lagi dan tidak bangun lagi seterusnya. Setelah mendengar penuturan tetangga saya tadi, saya pun masuk ke masjid, shalat tahiyyatul masjid kemudian membaca Al-Quran, sambil menunggu datangnya khotib. Tidak berapa lama khotib pun naik mimbar menyampaikan khutbah.
Khotib memulai khutbahnya dengan mengingatkan hadirin jamaah Jumat untuk mengisi Ramadhan dengan amal-amal saleh. Khotib mengingatkan apakah hadirin di hari-hari yang penuh berkah ini [baca: Ramadhan] sudah pernah menangis karena takut kepada Allah, takut akan siksa-Nya dan takut terhadap dosa-dosa yang telah dikerjakan? Ya Allah, kenapa saya lalai dari ini? Berlalu dua pertiga Ramadhan tapi kondisi saya masih...
Kemudian khotib berkata, "Sudahkah kita menangis karena takut kepada Allah? Atau kita menangis hanya karena kesulitan hidup? Khawatir tidak bisa makan besok? Atau karena ditinggalkan orang yang kita sayangi saja? " Subhanallah! Betul juga, kenapa yang selama ini ditangisi dan ditakuti hanya masalah dunia? Kenapa yang selalu muncul di kepala "takut miskin", "takut menganggur", "takut tidak dapat kerja" dan yang semisal dengannya! Bukankah adzab kubur dan neraka lebih menakutkan dibandingkan semua itu?

Kemudian khotib membacakan suatu hadits Nabi yang maknanya: “Wahai manusia, menangislah, jika kalian tidak dapat menangis, berusahalah untuk menangis. Karena sesungguhnya penduduk neraka akan menangis sampai air mata mereka mengalir ke pipi-pipi mereka seperti anak sungai hingga air mata mereka habis. Setelah habis, yang keluar bukan lagi air mata akan tetapi darah. " Naudzubillah min dzalik.. Suasana seperti mencekam, sampai-sampai saya melihat orang-orang yang ada di depan saya seolah-olah terperangah mendengarnya, karena selain isi hadits yang "menakutkan", khotib juga membacanya seperti orang yang merintih kesakitan.
Kemudian di akhir khutbah khotib kembali mengingatkan agar jangan ketakutan kita terhadap masalah dunia mengalahkan ketakutan kita terhadap prahara hari kiamat. Khatib berkata, "Kenikmatan dan kesengsaraan di dunia itu sementara, Berapa lama sih kita hidup di dunia? Mungkin paling lama sampai usia tujuh puluh tahun, sedangkan kenikmatan dan kesengsaraan di akhirat tidak berujung dan berpenghabisan. " Subhanallah! Betul juga, kenapa kita harus bersedih dan takut dengan kesengsaraan di dunia yang sementara ini?! Kenapa kita harus putus asa dan tidak sabar dengan kesusahan yang sering dirasakan, padahal kalau dibandingkan kesusahan yang dirasakan di akhirat nanti tentu kesusahan sekarang ini sangatlah sebentar dan tak seberapa!
Selesailah khutbah, lalu dilanjutkan dengan shalat Jumat. Kemudian setelah itu diumumkan kepada jamaah bahwa akan diselenggarakan shalat jenazah yaitu menyolati jenazah ustadz yang meninggal tadi. Yang membuat saya heran ketika itu, siapa sangka seorang ustadz "kampung", sosok sederhana yang jauh dari ketenaran, yang hanya mengajar ngaji dan mengisi khutbah, yang memiliki rumah hanya tipe RSSS (rumah sangat sederhana sekali) yang bila ingin menuju ke rumahnya harus melalui gang-gang sempit, ternyata dishalati orang-orang "besar" seperti Kapolsek dan Camat beserta para staf keduanya. Bahkan ada juga aparat TNI yang ikut menyolatinya, entah itu Danramil atau siapa, yang jelas saya yakin kalau ia aparat TNI yang memiliki jabatan lumayan tinggi.
Lantas kok bisa orang-orang "besar" itu kenal dengannya? Ternyata "rahasia" itu terkuak setelah salah seorang pengurus masjid memberitahukan bahwa ustadz ini selama hidupnya selain mengajar di masjid beliau juga ternyata merangkap sebagai dai Kamtibmas. Oh pantas..Tapi walaupun begitu tidak mengurangi kekaguman saya kepadanya mengingat kesahajaannya.
Cukup mengagumkan. Akan tetapi yang lebih mengagumkan lagi, di malam hari yang besoknya ia meninggal, ia sempat mengirim SMS ke Kapolsek dan itu adalah SMS terakhir yang diterima darinya(ustadz itu). Apa isinya? Di hadapan kami, jamaah yang ingin menyolati jenazahnya, Kapolsek membacakan isi SMS itu dengan mata berkaca-kaca, sayangnya saya tidak hafal seluruh kata-katanya, akan tetapi intinya ia menasehati Kapolsek untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan di bulan Ramadhan ini dan hendaknya tatkala menghadapi berbagai masalah memperbanyak dzikir (mengingat) Allah. Subhanallah! SMS terakhir sebelum meninggal! Nasehat terakhir di akhir hidupnya! Semoga Allah merahmatimu, melapangkan kuburmu dan menempatkanmu di tempat yang diridhai-Nya, wahai ustadz!

Selasa, 07 September 2010

Jawaban Atas Fitnah Keji Kepada Hizbut Tahrir

Banyak tulisan dan fitnah yang merujuk pada buku Al-Mawsu’ah al-Maysirah fi al-Adyan wa al-Madzahib al-Mu’ashirah yang dikeluarkan oleh An-Nadwah al-’Alamiyah li asy-Syabab al-Islami (WAMY), dan tidak merujuk pada sumber-sumber primer Hizbut Tahrir. Padahal buku keluaran WAMY itu juga tidak merujuk pada sumber-sumber primer Hizbut Tahrir, tetapi merujuk pada buku lain karya Shadiq Amin yang berjudul Ad-Da’wah al-Islamiyyah Faridhah Syar’iyyah wa Dharurah Basyariyyah. Buku karya Shadiq Amin ini pun dipenuhi dengan fitnah dan kedustaan.