Jumat, 15 Oktober 2010

Ukhti... Aku Merindukanmu... (Sebuah Muhasabah)

Ukhti.. Aku Merindukanmu.. (Sebuah Muhasabah)

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabar ukhti..? Aku yakin, ukhti akan selalu dalam kondisi prima. Karena pikiran positif ukhti yang hebat dapat menyingkirkan kesedihan dan jutaan tekanan.

Selasa, 21 September 2010

Indahnya Sistem Islam, Solusi Alternatif Mengganti dan Menuntaskan Kebobrokan Sistem Peradilan Sekuler Demokratis

oleh Anggara Kelana pada 22 September 2010 jam 9:46
Masyarakat sekarang seolah menjadi masyarakat yang terdidik, melek hukum, dan sadar politik. Respon penguasa dengan mencanangkan program “ganyang Mafia” peradilan/hukum pada tanggal 5/11/09 sebagai bagian dari agenda 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, tidak menjadikan otomatis masyarakat percaya. Karena seperti pepatah nasi telah menjadi bubur, juga sekalipun pemerintah kembali membuka PO Box 9949 berikut dengan kode GM (Ganyang Mafia) untuk menerima laporan masyarakat yang menjadi korban atau bahkan dengan pembentukan Satgas

Selasa, 14 September 2010

~Satu Perjuangan, Ukhuwah dan Salam~

~Satu Perjuangan, ukhuwah dan salam~

oleh Adi Victory pada 14 September 2010 jam 14:56
Ukhuwah bukan hanya sekedar kata-kata indah dalam sms-sms atau pembicaraan kita, namun kenyataannya kita masih jauh dari konsep ukhuwah yang indah itu.

Ukhuwah bukan sebuah “basa-basi”. Ukhuwah bermula dari kejujuran hati kita, bermula niat kita saling mencintai karena Allah

Sabtu, 11 September 2010

Jumat Berharga

.Oleh Anung Umar
Di hari Jumat ini saya mendapatkan beberapa "kejutan" yang berharga. Semua itu bermula ketika saya berangkat ke masjid di dekat rumah untuk menunaikan shalat Jumat. Ketika sampai di masjid, terlihat beberapa polisi dan mobil ambulan diparkir dekat masjid.
Saya bertanya-tanya dalam hati ada apa polisi banyak berdatangan ke sini? Dan ada apa pula ambulan di sini? Saya bertanya kepada tetangga yang kebetulan ada di situ, "Ada Gubernur ya? Kok rame gitu? " Itu yang saya kira awalnya. Karena memang kondisinya mirip ketika Gubernur DKI datang ke tempat itu. Ia menjawab, "Nggak, itu ustadz fulan (tidak perlu saya sebutkan namanya) meninggal. " Inna lillah wainna ilaihi raji'uun... Ustadz yang selama ini mengajar dan mengisi khutbah di masjid ini meninggal.
Tetangga saya yang lain mengabarkan bahwa meninggalnya itu mengagetkan banyak orang karena tidak didahului dengan penyakit atau kecelakaan, pokoknya sebelumnya sehat wal afiat. Meninggalnya diketahui di waktu sahur, tatkala anaknya membangunkannya untuk bersantap sahur. Ia sempat bangun dan sedikit menjawab, lalu tidur lagi dan tidak bangun lagi seterusnya. Setelah mendengar penuturan tetangga saya tadi, saya pun masuk ke masjid, shalat tahiyyatul masjid kemudian membaca Al-Quran, sambil menunggu datangnya khotib. Tidak berapa lama khotib pun naik mimbar menyampaikan khutbah.
Khotib memulai khutbahnya dengan mengingatkan hadirin jamaah Jumat untuk mengisi Ramadhan dengan amal-amal saleh. Khotib mengingatkan apakah hadirin di hari-hari yang penuh berkah ini [baca: Ramadhan] sudah pernah menangis karena takut kepada Allah, takut akan siksa-Nya dan takut terhadap dosa-dosa yang telah dikerjakan? Ya Allah, kenapa saya lalai dari ini? Berlalu dua pertiga Ramadhan tapi kondisi saya masih...
Kemudian khotib berkata, "Sudahkah kita menangis karena takut kepada Allah? Atau kita menangis hanya karena kesulitan hidup? Khawatir tidak bisa makan besok? Atau karena ditinggalkan orang yang kita sayangi saja? " Subhanallah! Betul juga, kenapa yang selama ini ditangisi dan ditakuti hanya masalah dunia? Kenapa yang selalu muncul di kepala "takut miskin", "takut menganggur", "takut tidak dapat kerja" dan yang semisal dengannya! Bukankah adzab kubur dan neraka lebih menakutkan dibandingkan semua itu?

Kemudian khotib membacakan suatu hadits Nabi yang maknanya: “Wahai manusia, menangislah, jika kalian tidak dapat menangis, berusahalah untuk menangis. Karena sesungguhnya penduduk neraka akan menangis sampai air mata mereka mengalir ke pipi-pipi mereka seperti anak sungai hingga air mata mereka habis. Setelah habis, yang keluar bukan lagi air mata akan tetapi darah. " Naudzubillah min dzalik.. Suasana seperti mencekam, sampai-sampai saya melihat orang-orang yang ada di depan saya seolah-olah terperangah mendengarnya, karena selain isi hadits yang "menakutkan", khotib juga membacanya seperti orang yang merintih kesakitan.
Kemudian di akhir khutbah khotib kembali mengingatkan agar jangan ketakutan kita terhadap masalah dunia mengalahkan ketakutan kita terhadap prahara hari kiamat. Khatib berkata, "Kenikmatan dan kesengsaraan di dunia itu sementara, Berapa lama sih kita hidup di dunia? Mungkin paling lama sampai usia tujuh puluh tahun, sedangkan kenikmatan dan kesengsaraan di akhirat tidak berujung dan berpenghabisan. " Subhanallah! Betul juga, kenapa kita harus bersedih dan takut dengan kesengsaraan di dunia yang sementara ini?! Kenapa kita harus putus asa dan tidak sabar dengan kesusahan yang sering dirasakan, padahal kalau dibandingkan kesusahan yang dirasakan di akhirat nanti tentu kesusahan sekarang ini sangatlah sebentar dan tak seberapa!
Selesailah khutbah, lalu dilanjutkan dengan shalat Jumat. Kemudian setelah itu diumumkan kepada jamaah bahwa akan diselenggarakan shalat jenazah yaitu menyolati jenazah ustadz yang meninggal tadi. Yang membuat saya heran ketika itu, siapa sangka seorang ustadz "kampung", sosok sederhana yang jauh dari ketenaran, yang hanya mengajar ngaji dan mengisi khutbah, yang memiliki rumah hanya tipe RSSS (rumah sangat sederhana sekali) yang bila ingin menuju ke rumahnya harus melalui gang-gang sempit, ternyata dishalati orang-orang "besar" seperti Kapolsek dan Camat beserta para staf keduanya. Bahkan ada juga aparat TNI yang ikut menyolatinya, entah itu Danramil atau siapa, yang jelas saya yakin kalau ia aparat TNI yang memiliki jabatan lumayan tinggi.
Lantas kok bisa orang-orang "besar" itu kenal dengannya? Ternyata "rahasia" itu terkuak setelah salah seorang pengurus masjid memberitahukan bahwa ustadz ini selama hidupnya selain mengajar di masjid beliau juga ternyata merangkap sebagai dai Kamtibmas. Oh pantas..Tapi walaupun begitu tidak mengurangi kekaguman saya kepadanya mengingat kesahajaannya.
Cukup mengagumkan. Akan tetapi yang lebih mengagumkan lagi, di malam hari yang besoknya ia meninggal, ia sempat mengirim SMS ke Kapolsek dan itu adalah SMS terakhir yang diterima darinya(ustadz itu). Apa isinya? Di hadapan kami, jamaah yang ingin menyolati jenazahnya, Kapolsek membacakan isi SMS itu dengan mata berkaca-kaca, sayangnya saya tidak hafal seluruh kata-katanya, akan tetapi intinya ia menasehati Kapolsek untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan di bulan Ramadhan ini dan hendaknya tatkala menghadapi berbagai masalah memperbanyak dzikir (mengingat) Allah. Subhanallah! SMS terakhir sebelum meninggal! Nasehat terakhir di akhir hidupnya! Semoga Allah merahmatimu, melapangkan kuburmu dan menempatkanmu di tempat yang diridhai-Nya, wahai ustadz!

Selasa, 07 September 2010

Jawaban Atas Fitnah Keji Kepada Hizbut Tahrir

Banyak tulisan dan fitnah yang merujuk pada buku Al-Mawsu’ah al-Maysirah fi al-Adyan wa al-Madzahib al-Mu’ashirah yang dikeluarkan oleh An-Nadwah al-’Alamiyah li asy-Syabab al-Islami (WAMY), dan tidak merujuk pada sumber-sumber primer Hizbut Tahrir. Padahal buku keluaran WAMY itu juga tidak merujuk pada sumber-sumber primer Hizbut Tahrir, tetapi merujuk pada buku lain karya Shadiq Amin yang berjudul Ad-Da’wah al-Islamiyyah Faridhah Syar’iyyah wa Dharurah Basyariyyah. Buku karya Shadiq Amin ini pun dipenuhi dengan fitnah dan kedustaan.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Menjawab Opini Negatif Terhadap Syariat Islam

 Berkenaan dengan gagasan penerapan syariat Islam, ada sejumlah tuduhan miring yang dilontarkan, yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Tuduhan miring ini lebih merupakan upaya penciptaan opini negatif terhadap citra syariat Islam. Disebut opini negatif karena opini tersebut memang tidak sesuai dengan realitas syariat Islam itu sendiri. Opini negatif terhadap syariat Islam ini bila dicermati pada dasarnya disandarkan pada dua hal (i) konsepsi tentang Islam, dan (ii) kondisi faktual di masyarakat. Beberapa opini negatif yang saat ini mulai disuarakan dengan lantang di berbagai media massa sesuai dengan dua hal di atas adalah sebagai berikut.

Senin, 09 Agustus 2010

*Propaganda Anti Islam Dibalik Perang Melawan Terorisme*


Penjajah Barat kapitalis tidak berhenti melakukan melakukan evaluasi dan studi tentang kaum Muslimin dan Islam. Mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa kekuatan Islam dan umatnya ada pada akidah Islam dan pemikiran-pemikiran yang lahir darinya. Karena itu, mereka tetap berkepentingan untuk memusnahkan Islam. Caranya adalah dengan menghapuskan Islam sebagai akidah siyâyisah (dasar sistem politik) dan menggantikannya dengan akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Mereka pun gencar mengembangkan ide-ide yang muncul dari aqidah sekularisme ini seperti nasionalisme, demokrasi, pluralisme politik, HAM, kebebasan, dan politik pasar bebas.

Jumat, 06 Agustus 2010

ISLAM YANG DIKEHENDAKI MUSUH-MUSUHNYA

ISLAM YANG DIKEHENDAKI MUSUH-MUSUHNYA (Fahmi Amhar, Wina 1997)

adalah Islam yang tinggal ahlaq, tanpa jihad,
adalah Islam yang tinggal ibadah, tanpa syari'ah,
adalah Islam yang boleh menyinari rumah-tangga,
namun bukan industri atau niaga,

adalah Islam yang boleh ada di masjid dan mushola, tapi bukan kantor pemerintah dan swasta,
adalah Islam yang boleh bicara tentang akherat,
tapi tidak tentang cara melayani rakyat,
adalah Islam yang diamalkan para pertapa shufi,

dan bukan para umara' yang peduli,
bukan alim ulama’ yang hati-hati,
bukan kaum aghniya' yang zuhdi
bukan pula mujahidin yang tak takut mati.

Islam yang dikehendaki musuh-musuhnya

adalah Islam yang mengemis pada Barat,
bukan yang mampu menolong sendiri ummat,
di Bosnia, di Palestina, atau di Iraq,
di manapun ummat berkhidmat,
apalagi menolong dunia dari laknat,
future schock, disorientasi kehidupan,
kerusakan ekosistem, AIDS, narkoba,
dan kesewenang-wenangan kapitalis keparat.

Islam yang dikehendaki musuh-musuhnya

adalah Qur'an dibacakan di masjid dan arena tilawah,
bukan di sidang kabinet atau mahkamah,

adalah Qur'an disampaikan ke orang mati atau sekarat,
bukan pada orang hidup yang sehat,

adalah Qur'an diajarkan di madrasah dan pesantren,
bukan di sekolah bisnis yang keren,

Islam yang dikehendaki musuh-musuhnya

adalah Rasul sebagai panutan fatamorgana,
sedang selebriti kondang tetaplah idola,
bahkan terkadang Rasul pun sekedar,
tokoh historis yang juga bisa salah dan dosa.

Ya Allah, Islam seperti inikah yang kau janjikan sebagai rahmat bagi seluruh semesta?

Dan ummat seperti inikah yang Kau hadirkan sebagai yang terbaik ke tengah manusia?

(Wina, 1997)

Selasa, 27 Juli 2010

ustd menjawab

Saudara Abdullah yang dirahmati Allah swt

Da’wah kepada Allah swt adalah perbuatan mulia di sisi-Nya karena dengannya manusia atau suatu masyarakat akan keluar dari lembah kejahiliyahan yang penuh dengan kemaksiatan menunju ketinggian marifah dan cahaya islam yang penuh dengan ketaatan dan keredhoan Allah swt.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. 41: 33)

Karena da’wah inilah umat Muhammad saw mendapatkan kemuliaan dari Allah swt dengan umat terbaik ditengah-tengah manusia karena hidup mereka bukanlah untuk diri mereka sendiri akan tetapi untuk orang lain dan umatnya. Peluh dan keringat yang membasahi tubuhnya, harta benda yang dikeluarkannya, ilmu yang tuangkannya, pemikiran konstruktif yang terus dieksplorasi hingga jiwa yang harus melayang didalam aktivitas da’wahnya adalah dikhidmatkan untuk umatnya semata-mata mengharap ridho Allah swt.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ


Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Al Imran : 110)

Sebaliknya dengan orang-orang Bani Israil yang dilaknat Allah swt dikarenakan tidak menegakkan da’wah dengan benar. Mereka hanya memikirkan dirinya dan tidak orang lain atau umatnya. Mereka adalah orang-orang egois yang pernah ada yang hanya berfikir kebaikan ada pada dirinya saja dan tidak pada orang lain sehingga hilang kebiasaan saling mencegah kemunkaran di tengah-tengah mereka.

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ ﴿٧٨﴾
كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ ﴿٧٩﴾


Artinya : “Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al Maidah : 78 – 79)

Karena dawah kepada Allah memiliki tujuan mulia maka diharuskan bagi seorang da’i atau jamaah da’wah untuk berpegang teguh dengan aturan-aturan dan hukum-hukum Allah swt didalam dawahnya.

Islam tidak mengenal istilah tujuan menghalalkan segala cara tanpa memperhatikan aturan-aturan syari yang ada didalamnya. Akan tetapi sebaliknya, islam berprinsip tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Islam tidak membenarkan seorang dai yang ingin menunjukkan hidayah kepada seorang pemabuk dengan cara ikut mabuk bersamanya, ikut berjudi bersama seorang penjudi yang diharapkannya mendapat hidayah, atau menunjuki umat kepada hidayah-Nya dengan uang hasil pemerasan, suap, menzhalimi orang atau cara-cara haram lainnya.

Tak seorang pun diperbolehkan merubah sesuatu yang telah dihalalkan Allah swt menjadi haram atau yang telah diharamkan-Nya menjadi halal hanya semata-mata baiknya tujuan yang akan dicapai atau untuk kemasalahatan umat dan dawah. Fiqh Dawah tidaklah dipakai sebagai sebuah alasan untuk melanggar hukum-hukum Allah swt.

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ


Artinya “Keputusan hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf : 40)

Karena itu Allah dan Rasul-Nya mengecam para alim ulama dan ahli ibadah dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang telah mengambil hak Allah didalam menentukan hukum terhadap sesuatu dengan menghalalkan yang diharamkan Allah atau mengharamkan yang dihalalkan-Nya dan Al Quran menyebut mereka sebagai tuhan (tandingan) Allah swt serta mengecam para pengikutnya yang mengikuti hukum-hukum yang dibuat mereka padahal bertentangan dengan hukum yang telah ditetapkan Allah swt.

Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Adi bin Hatim berkata: Aku mendatangi nabi Shallallahu saw dan di leherku ada salib emas, beliau bersabda: "Hai Adi, buanglah berhala itu darimu." Dan aku mendengar beliau membaca dalam surat Al Baraa`ah: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah.' (At Taubah: 31) beliau bersabda: "Ingat, sesungguhnya mereka tidak menyembah mereka tapi bila mereka menghalalkan sesuatu, mereka menghalalkannya dan bila mengharamkan sesuatu, mereka mengharamkannya."

Semoga Allah swt senantiasa memberikan perlindungan kepada para dai yang senantiasa ikhlas menyeru di jalan-Nya dan memberikan kekuatan kepada mereka didalam berkomitmen dengan aturan-aturan dan hukum-hukum-Nya serta memberikan hidayah kepada umatnya. Amin

Kamis, 22 Juli 2010

Ki Bagoes Hadikusumo ( 1890-1954)

Ki Bagoes Hadikoesoemo (1890-1954)
PEJUANG SYARIAH YANG DIKHIANATI
SOEKARNO

Di indonesia, ketika masa penjajahan kekaisaran majusi jepang (1942-1945) penduduk yang mayoritas muslim ini di paksa untuk seikerei yakni membungkuk (mirip ruku’) ke arah tokyo sambil memusatkan hati kepada Hirohito (1991-1989). Hirohito adalah kaisar Jepang yang di anggap sebagai keturunaan dewata yang katanya turun dari kayangan untuk kemakmuran manusia dalam lingkungan asia raya dan di beri gelar tenno heika (yang maha mulia kaisar).
Doktrin Fasisme Najusi Jepang tersebut di tanamkan pula pada seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Setiap jam tujuh pagi semua murit wajip melakukan seikerei. Tentu hal itu membuat berang setiap Muslim yang imannya tertancap kokoh dalam jiwanya.
Maka bangkit lah para ulama penentang arus kemusrikan itu termasuk Ki Bagoes Hadikoesoemo, ketua umum Muhammadiah saat itu. Ia berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam untuk memerintahkan umat islam dan warga Muhammadiah melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari. ”seikerei terlarang bagi umat islam karena bertentangan dengan tauhid!” tegasnya.

Pemimpin Umat,
Ki Bagoes di lahirkan di kampung kauman yogyakarta dengan nama Raden Hidayat pada 11 rabi’ul akhir 1038 H. Ia putra ke-3 dari 5 bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat agama islam di kraton Yogyakarta). Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagoes mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa kiai di kauman.
Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) di tambah mengaji dan besar di pesantren tradisional wonokromo, tetapi berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitap-kitap fikih antasauf akhirnya dia menjadi orang alim, mubaligh dan pemimpin ummat.
Secara formal, di sampang kegitan tabligh, Ki Bagoes pernah menjadi ketua majelis tabligh (1922), ketua majelis tarjih, anggota komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiah (1926), dan ketua PP Muhammadiah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan yang mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiah.
Ki Bagoes adalah termasuk seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk mencontoh nabi Muhammad SAW yakni menginstutisionalisasikan islam. Bagi Ki Bagoes pelembagaan islam menjadi sangat penting untuk alasan –alasan idiologi, poliltis, dan juga intelektual.
Ki Bagoes juga sangat produktif untuk menuliskan buah pikirannya salah satu bukunya yanng ia tulis adalah Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin.
Maka dalam rangka menegakkan hukum islam di Indonesia, di masa penjajahan kerajaan protestan belanda, ia dan bebera ulama lain nya terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama (priesteraden comisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum islam.
Akan tetapi Ki Bagoes di kecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang di dukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang di berlakukannnya hukum islam untuk kemudian di ganti dengan hukum adat melaluli penetapan ordonasi 1931.

Kekecewaannya ia ungkap kembali saat menyampaikan pidato di depan sidang Badan Persiapan Usaha Penyelidik Kemerdekaan Indonesia(BPUPKI) yang kemudian menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu.

Namun ia tidak pata arang. Meskipun BPUPKI di buat oleh penjajah Jepang yang menunjuk pentolan nasionalis sekuler soekarno sebagai ketuanya, Ki Bagoes berusaha merealisasikan cita-citanya melalui badan itu. Terjadilah perdebatan sengit antara pejuang syari’ah dengan kelompok nasinalis sekuler dan kristen.

Pada 22 juni 1945, panitia 9 yang di bentuk BPUPKI menandatangani rancangan Undang-Undang Dasar Negara RI yang belakangan di sebut sebagai Piagam Jakarta. Meki telah di sahkan namun tetap menimbulkan kontropersi. Pihak islam belum puas. Begitu juga, pihak kristen di wakili Latuharharry sempat mmenyual rumusan tersebut.

Meski demikian perdebatan alot terus terjadi antara pejuang syari’h dan kelompok lainnya terutama terkait degan dasar negara dan formalisisi penerapan syari’ah islam. Ki Bagoes tentu saja di kubu islam yang menginginkan negara berdasarkan islam dan memberikan kebebasan kepada penganut agama lain untuk menjalankan agamanya.

Sedangkan Soekarno berusaha menengahi denngan gaya kompromistis (baca:mencampurkan yang hak dan yang batil). Dalam rapat BPUPKI 11 juli 1945 Soekarno menyatakan,
“saya ulangi lagi bahwa ini satu kompromis untuk menyudahi kesulitan antara kita bersama. Kompromis itu pun terdapat sesudah keringat kita menetes. Tuann-tuan, saya kira sudah ternyata bahwa kalimat dengan di dasar kan kepada ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at islam bagi pemeluk-pemeluknya sudah di terima panitia ini”.
Pada rapat 14 Juli 1945, Ki Bagoes mengusulkan agar kata bagi pemeluk-pemeluknya di coret. Jadi bunyinya hanya ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.
Karena Ki Bagoes menyadari Islam bukan saja mengajarkan ibadah Mahdhah yang hanya mengatur ritual kaum muslim saja tetapi merupakan ajaran yang sempurna yang mengatur negara dan masyrakat seperti yang telah di contohkan Rasulullah SAW.
Nabi Muhammad SAW memimpin negara Madina dengan Syariah Islam padahal penduduknya Plural, disamping bermacam suku dari berbagai bangsa tetapi juga bermacam agama seperti Islam, Yahudi, Kristen dan penyembah berhala.
Pendapatnya pun ditolak kelompok Nasionalis Sekuler. Soekarno lagi-lagi meminta anggota BPUPKI: “Sudahlah, hasil kompromi diantara dua pihak, sehingga dengan kompromis itu, perselisihan diantara kedua pihak hilang. Tiap kompromi berdasar kepada memberi dan mengambi, geven dan nemen.”
Namun sehari setelah proklamasi kemerdekaan, tepatnya pada 18 Agustus 1945, dihapuslah kalimat dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya (tujuh kata) itu alih-alih hanya menghapus tiga kata terakhirnya saja seperti yang diusulkan Ki Bagoes.
Tujuh kata tersebut, dihapus dengan dalih golongan protestan dan katolik lebih suka berdiri dipulau republik bila tujuh kata tersebut masih tercantum dalam UUD 1945. Maka Kasman Singodimejo, anggota panitia sembilan pun melobi kelompok Islam termasuk Ki Bagoes agar setuju kata tersebut diganti dengan yang Maha Esa.
Almarhum Husein Umar (Terakhir sebagai ketua umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) menyatakan masih terngiang ucapak Kasman dalam sebuah perbincangan. Kasman merasa turut bersalah karena dengan bahasa Jawa yang halus Kasman menyampaikan kepada Ki Bagoes untuk sementara menerima usulan dihapusnya tujuh kata itu. Kasman terpengaruh oleh janji Soekarno dalam ucapannya. “Ini adalah UUD sementara, UUD Darurat, UU Kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk apa yang tuan-tuan dari golongan Islam Inginkan silahkan perjuangkan disitu,” ujar Kasman menirukan bujukan Soekarno.
Kasman berpikir, yang penting merdeka dulu. Lalu meminta Ki Bagoes bersabar menanti 6 bulan lagi. Bung Hatta juga menjelaskan bahwa Yang Maha Esa itu adalah Tauhid maka tentramlah Hati Ki Bagoes. karena dalam pandangan Ki Bagoes hanya Islamlah agama Tauhid. Namun 6 bulan kemudian Soekarno tidak menepati Janji. Majelis Permusyawaratan rakyat tidak pernah terbentuk. Pemilu yang pertama baru dilaksanakan 10 tahun sesudah Proklamasi (1955). Sementara Ki Bagoes yang diminta oleh Kasman Singodimejo meninggal dalam penantian. [dari berbagai sumber]

Islam bukan sistem politik??

Islam bukan sebuah sistem Politik???
Tulisan ini saya kirim keforum milis myQuran@yahoogroups.com, myQuran@googlegroups.com dan eramuslim@yahoogroups.com dimana saya aktif pada ketiga milis tersebut dan sebagaimana sebelumnya tidak lupa juga saya CC-kan tulisan ini kealamat email Sdr. Ulil Abshar Abdhalla dan juga redaksi situs Islam Liberal yang saya temukan dialamat http://islamlib.com/id/kontak.php dengan harapan tulisan ini memang sampai ketujuan sebenarnya. [alamatnya : ulil99@yahoo.com ; redaksi@islamlib.com ]

INILAH AMAL PEMBUKA REZEKI

*


oleh mashadi

Manusia hanya dapat mengharapkan pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla. Tidak dapat menggantungkan diri kepada makhluk. Hanya Allah Rabbul Alamin yang berhak untuk dimintai pertolongan ‘Iyyaka nasyta’in’, datangnya pertolongan itu hanyalah dari Rabb semata.

Manusia dan kelompok yang menggantungkan hidupnya kepada makhluk lainnya, pasti akan mendapatkan dirinya terjatuh ke dalam lembah kehinaan dan kesesatan belaka.

Diantara pintu yang akan mengantarkan pintu rezeki, dan menjauhkan dari kesempitan hidup adalah :

1.Membaca “La ilaha illahah”.

Barang siapa yang lambat rezekinya hendaklah banyak mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah (HR.At-Tabrani.

2.Membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”.

Barangsiapa yang membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”, maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur”. (HR. Abu Nu’aim dan Ad-Dailami).

3.Melanggengkan Istighfar.

“Barangsiapa melanggengkan istighfar, niscaya Allah mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan dan memberikan dia rezeki dari arah yang tidak diduganya”. (HR.Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

4.Membaca Surah Al-Ikhlas.

“Barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas ketika masuk rumah, maka (berkah bacaan) menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya”. (HR.Tabrani).

5.Membaca surah al-Waqi’ah

“Barangsiapa membaca surah al-Waqi’ah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup”. (HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

6.Memperbanyak Shalawat atas Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam.

Ubay bin Ka’ab meriwayatkan , bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam berdiri seraya bersabda, “Wahau manusia, berzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat), pertama kemudian diiringi tiupan keuda. Akan datang kematian dan segala kesulitan yang ada di dalamnya”.

7.Membaca “Subhanallah wabihamdihi subhanallahil ‘adzhim.

..dari setiap kalimat itu seorang malaikat yang bertasbih kepada Allah Ta’ala sampai diberikan untukmu sampia hari Kiamat yang pahala tasbihnya itu diberikan untukmu”. (HR.Al-Mustaqfiri dalam Ad-Da’wat, dinukilkan dari Ihya Ulumuddin al-Ghazali).

Sementara itu, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ada beberapa orang musyrik yang telah berbuat maksiat dan dosa, yaitu mereka membunuh dan berzina. Maka, m ereka menghadap Rasulullah untuk bertobat. Mereka pun bertanya kepada beliau, apakah akan diterima tobat mereka? Maka, turunlah ayat ini yang menerangkan hendaknya jangan berputus asa untuk terus mencari ampunan Allah Rabbul Alamin.

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Al-Qur’an : Az-Zummar : 53)

Semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan rezeki dan melapangkan jalan hidup kaum muslimin, dan jauhkan dari jalan-jalan setan, yang selalu akan menyesatkan. Wallahu’alam.

Rabu, 21 Juli 2010

~Menyoal Fiqh Al-Waqi` (karangan menyoal Fiqh Al-Waqi)

Fiqh al-wâqi‘ (fikih realitas) merupakan gagasan dasar Yusuf al-Qaradhawi dalam upayanya melakukan pembaruan fikih untuk menyikapi realitas modern. Dalam kitabnya, Fiqih Peradaban (1997), al-Qaradhawi menjelaskan, fiqh al-wâqi’ ialah pengetahuan mengenai realitas yang sebenarnya, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. (1997: 292). Realitas ini penting dipahami karena, menurut al-Qaradhawi, pemahaman atas realitas akan menjadi pertimbangan tentang bagaimana kita berhubungan dengan realitas: apakah realitas itu akan kita terima atau kita tolak? (1997: 293)